Monday, 30 May 2011

Syair Perahu

Photobucket



kias Al-Fansuri






Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

~ Hamzah Fansuri ~

Monday, 23 May 2011

PENANTIAN PENUH DEBARAN

Photobucket


اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزَنَ الصَّعْبَ إِنْ شِئْتَ سَهْل

Maksudnya: “Ya Allah! Tidak ada kesenangan melainkan pada perkara yang engkau jadikan kesenangan padanya. Dan engkau menjadikan kedukacitaan dan kesukaran sebagai mudah dan senang jika Engkau kehendaki.”

Jadual Peperiksaan aku :

 AHAD           12/6                     AL-QURAN


 RABU           15/6                     LUGHAH EROPAH


 AHAD           19/6                     QISOS AL-QURAN


 RABU           22/6                     TAUHID


 AHAD           26/6                     TASAWUF


 RABU           29/6                     ULUM AL-HADIS


 AHAD           3/7                       MILAL WA NIHAL


 RABU           6/7                       HADIS TAHLILI


 AHAD           10/7                     USUL DAKWAH


 RABU           13/7                     TAFSIR TAHLILI

Allahumma ya Allah..aku pohon keampunan Mu ya Allah.

Ya Allah !Aku adalah hamba Mu dan anak dari hambaMu. Ubun-ubunku berada diatas tangan Mu. Janganlah Kau tinggalkan aku dalam keadaan berhajat melainkan kau tunaikan hajatku, janganlah kau tinggalkan aku dalam keadaan bermohon melainkan Kau penuhilah permohonan ku.

Ya Allah! Aku bermohon kepada Mu. Jika dengan kejayaan didalam peperiksaan ini membuatkan aku lebih beristiqamah dalam menyampaikan agamamu,maka izinkanlah kejayaan tersebut. Jika sebaliknya,aku pulangkan segala – galanya didalam pengetahuanmu.

Ya Allah, Ya Tuhanku....Sesungguhnya engkau mengetahui setiap perkara yang berlaku dan Engkaulah yang berkuasa atas perkara tersebut...Amin

nota + kuliah - tenet / doa x usaha = najah..insyallah..(".)

Monday, 9 May 2011

KEMANA PERGI SUBSIDI KAMI ?

Photobucket


FB Bob lokman :
Sedih dan kecewa dengan kenaikan harga gula 20 sen, selepas minyak ron 97 juga naik 20 sen, apakah nasib ibu-ibu dan anak-anak miskin ? adakah mereka sudah cukup dibela ? tidaklah kenaikan ini hanyalah untuk kesenangan pihak tertentu sahaja, pasti harga makanan yang melibatkan gula akan naik dengan kadar tidak munasabah, cuba renungkan dan hayati sajak karya Dr Asri ini untuk kesedaran kita bersama.
 
KEMANA PERGI SUBSIDI KAMI ?
( Dr. Mohd Asri Zainul Abidin )

kalian rampas subsidi kami , entah ke mana dibawa lari
kalian beritahu , wang mesti dicatu , kita menuju maju ..
kalian kata : semua menderita , habis harta negara ..
kalian berbahasa ; bukan barang naik harga ,
cuma subsidi turun sahaja ..

kami orang desa , mungkin tidak pandai kira berjuta-juta ..
kami orang kecil kota , mungkin tiada sedemikian harta ..
jika kalian tipu sebegitu , biasanya kami diam selalu ..
tapi dapatkah kami dibohongi , tentang suapan saban hari ?

apalah yang dapat diberitahu anak ke sekolah .. ?
papa semakin parah.. ? wang semakin lelah ..?
jika semalam berlauk , hari ini cuma berkuah ..
kerana kerajaan kita sedang susah .. ?
maka subsidi kita terpaksa diserah ..

jika semalam kau makan sepinggan, hari ini separuh
kerana barang semakin angkuh , wang papa makin rapuh ..
apa yang dibisik pada anak berkopiah ke madrasah .. ?
makananmu sayang , sebahagiannya sudah hilang ..

jika mereka bertanya siapa yang bawa lari
kepada siapa patut kami tuding jari ?
janganlah nanti mereka membenci pertiwi ..
akibat pencuri harta bumi rakyat marhaen ini ..
atau kami jadi insan curang ..
kami beritahu : cuma subsidi sahaja yang kurang ?
tiada apa yang hilang , nanti akan datang wang melayang ..

dengar sini wahai yang tidak memijak bumi !
pernahkah kalian mengintip kehidupan kami ..
pernahkah kalian ngerti makna derita dan susah hati ..
kamu yang semput bagai melukut di kota kedekut ..
kami yang bekerja hingga senja di desa yang makin terseksa
bertarung nyawa dan masa , menghitung setiap belanja

pernahkah kau merasa ?
rumah bocor yang lanjut usia ?
baju dan kasut anak yang koyak
tinggal dalam rumah yang berasak asak
siang kami sebak , malam kami sesak ..

sedangkan kalian manusia angkasa ..
istana permata dibina , kereta berjuta dirasa ..
elaun di serata , dari isteri sehingga seluruh keluarga ..
hidangan istimewa , konon meraya kemakmuran negara ..

tapi kami masih di sini .. di teratak ini ..
dengan lauk semalam
dengan hidangan yang tidak bertalam ..
dengan rumah yang suram ..
dengan wang yang hampir padam ..

tiada istana lawa .. tiada kereta berharga ..
tiada layanan di raja .. tiada baju bergaya ..
tiada kediaman menteri .. tiada hidangan v.i.p
tiada persen di sana sini .. tiada bahagian anak dan bini ..

tiba tiba kalian kata : kamilah beban negara ..
aduhai celaka bahasa yang kalian guna ..
kalian yang belasah , kami yang bersalah ..
kalian yang untung , hutang kami tanggung ..
kalian mewah melimpah , kami susah parah ..
kalian hilangkan wang , poket kami yang terbang ..
kalian bina istana , rumah kami jadi manga ..
kalian makan isi , kami dijadikan abdi ..

lantas , kalian rampas lagi subsidi ..
ke mana wang itu pergi nanti ?
jika kalian berhati suci , wajib menganti buat kami ..
jika tidak pun buat gula konon merbahaya
mengapa tidak beras diturun harga ?
jika tidak untuk minyak kereta ?
mengapa tambang tidak dipotong sahaja ..
tapi entah berapa kali janji ..
konon : nanti kami ganti , kami ganti , kami ganti ..
hari demi hari , ceritanya pun tidak berbunyi lagi ..
kami terus termanggu di sini ..
kalian juga yang nikmati..
kami hanya mengigit jari ..

kembalikanlah kepada kami harta negara ..
jangan hanya kalian sahaja yang merasa ..

Sunday, 8 May 2011

Syeikh Hamzah al-Fansuri Sasterawan sufi agung

Photobucket


Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

Hampir semua pengkaji yang mem bicarakan tokoh ulama ini pada zaman moden, selalu merujuk kepada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas. Barangkali dunia memang mengakui bahawa beliaulah orang yang paling banyak memperkenalkan Syeikh Hamzah al-Fansuri ke peringkat antarabangsa. Walau bagaimanapun apabila kita membaca keseluruhan karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas yang membicarakan Syeikh Hamzah al-Fansuri, bukanlah bererti kita tidak perlu mentelaah karya-karya lain lagi, kerana apabila kita mentelaah karya-karya selainnya, terutama sekali yang masih berupa manuskrip, tentu sedikit sebanyak kita akan menemukan perkara-perkara baru yang belum dibicarakan. Karya terkini tentang Syeikh Hamzah al-Fansuri ialah buku yang diberi judul Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri. Buku setebal 444 halaman itu dikarang oleh Dr. Abdul Hadi W.M. dan terbitan pertama oleh Penerbit Paramadina, Jakarta, 2001. Sama ada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas mahupun karya Dr. Abdul Hadi W.M., sedikit pun tiada menyentuh gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri seperti yang tersebut di atas.

Asal-usul dan pendidikan

Prof. A. Hasymi pada penyelidikannya yang lebih awal bertentangan dengan hasil penyelidikannya yang terakhir. Penyelidikan awal, ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri nampaknya tidak ada hubungan adik beradik dengan ayah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan terakhir beliau mengatakan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri itu adalah adik beradik dengan Syeikh Ali al-Fansuri. Syeikh Ali al-Fansuri adalah ayah kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan awal yang saya maksudkan ialah yang ditulis oleh Prof. A. Hasymi dalam Ruba’i Hamzah Fansuri yang dapat diambil pengertian daripada kalimatnya, “Ayah Hamzah pindah dari Fansur (Singkel) ke Barus untuk mengajar, kerana beliau juga seorang ulama besar, seperti halnya ayah Syeikh Abdur Rauf Fansuri yang juga ulama, sama-sama berasal dari Fansur (Singkel)” (terbitan DBP, 1976, hlm. 11). Mengenai penyelidikan Prof. A. Hasymi yang menyebut Syeikh Hamzah al-Fansuri saudara Syeikh Ali al-Fansuri atau Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri adalah anak saudara kepada Syeikh Hamzah al-Fansuri, dapat dirujuk kepada kata pengantar buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh karya Abdul Hadi W.M. Dan L. K. Ara, diterbitkan oleh Penerbit Lotkala, tanpa menyebut tempat dan tarikh.


Walaupun Prof. A. Hasymi belum memberikan suatu pernyataan tegas bahawa beliau memansukhkan tulisannya yang disebut dalam Ruba’i Hamzah Fansuri, namun kita terpaksa memakai penyelidikan terakhir seperti yang telah dijelaskan di atas. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Ulama mengatakan bahawa beliau tidak yakin bahawa Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu benar-benar keponakan (anak saudara) Syeikh Hamzah al-Fansuri. “Sebab, menurutnya, tidak ada sumber lain yang mendukung hal itu.” Bagi saya ia masih boleh dibicarakan dan perlu penelitian yang lebih sempurna dan berkesinambungan. Sebab yang dinamakan sumber pendukung sesuatu pendapat, bukan hanya berdasarkan tulisan tetapi termasuklah cerita yang mutawatir. Kemungkinan Prof. A. Hasymi yang berasal dari Aceh itu lebih banyak mendapatkan cerita yang mutawatir berbanding penelitian barat yang banyak disebut oleh Azra. Diterima atau tidak oleh pengkaji selain beliau, terpulanglah ijtihad masing-masing orang yang berkenaan.

Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Prof. A. Hasymi menyebut bahawa Syeikh Hamzah Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda ternyata juga ada perubahan daripada tulisan beliau yang termaktub dalam Ruba’i Hamzah Fansuri‚ selengkapnya, “Hanya yang sudah pasti, bahawa beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M).” Yang dimaksudkan dengan “ternyata juga ada perubahan”, ialah pada kalimat, ” sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda,” menjadi kalimat “akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda.”

Tarikh lahir Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat belum dapat dipastikan, adapun tempat kelahirannya ada yang menyebut Barus atau Fansur. Disebut lebih terperinci oleh Prof. A. Hasymi bahawa Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkel dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan). Dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bahagian Aceh Selatan. Pendapat lain menyebut bahawa beliau dilahirkan di Syahrun Nawi atau Ayuthia di Siam dan berhijrah serta menetap di Barus.

Drs. Abdur Rahman al-Ahmadi dalam kertas kerjanya menyebut bahawa ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri bernama Syeikh Ismail Aceh bersama Wan Ismail dan Po Rome atau Po Ibrahim (1637- 1687 M) meninggal dunia dalam pertempuran melawan orang Yuwun (Annam) di Phanrang. Bahawa Syeikh Ismail Aceh itu pernah menjadi gabenor di Kota Sri Banoi menggantikan Gabenor Wan Ismail asal Patani yang melepaskan jabatan itu kerana usianya yang lanjut. Drs. Abdur Rahman Al-Ahmadi berpendapat baru, dengan menambah Syahrun Nawi itu di Sri Banoi Sri Vini, selain yang telah disebutkan oleh ramai penulis bahawa Syahrun Nawi adalah di Siam atau Aceh. Dalam Patani, iaitu antara perjalanan dari Patani ke Senggora memang terdapat satu kampung yang dinamakan Nawi, berkemungkinan dari kampung itulah yang dimaksudkan seperti yang termaktub dalam syair Syeikh Hamzah al-Fansuri yang menyebut nama Syahrun Nawi itu. Kampung Nawi di Patani itu barangkali nama asalnya memang Syahrun Nawi, lalu telah diubah oleh Siam hingga bernama Nawi saja. Syahrun Nawi adalah di Patani masih boleh diambil kira, kerana pada zaman dulu Patani dan sekitarnya adalah suatu kawasan yang memang ramai ulamanya. Saya telah sampai ke kampung tersebut (1992), berkali-kali kerana mencari manuskrip lama. Beberapa buah manuskrip memang saya peroleh di kampung itu. Lagi pula antara Aceh dan Patani sejak lama memang ada hubungan yang erat sekali. Walau bagaimanapun Prof. A. Hasymi menyebut bahawa Syahrun Nawi itu adalah nama dari Aceh sebagai peringatan bagi seorang Pangeran dari Siam yang datang ke Aceh pada masa silam yang bernama Syahir Nuwi, yang membangun Aceh pada zaman sebelum Islam.

Daripada berbagai-bagai sumber disebutkan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri telah belajar berbagai-bagai ilmu yang memakan masa lama. Selain belajar di Aceh sendiri beliau telah mengembara ke pelbagai tempat, di antaranya ke Banten (Jawa Barat), bahkan sumber yang lain menyebut bahawa beliau pernah mengembara keseluruh tanah Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Arab. Dikatakan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri sangat mahir dalam ilmu-ilmu fikah, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastera dan lain-lain. Dalam bidang bahasa pula beliau menguasai dengan kemas seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih dalam ucapan bahasa itu, berkebolehan berbahasa Urdu, Parsi, Melayu dan Jawa.

Karya-karyanya

Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat digolongkan kepada peringkat awal dalam menghasilkan karya puisi/sastera dalam bahasa Melayu, sangat menonjol terutama sekali dalam sektor sufi. Lebih terserlah lagi kemasyhurannya kerana terjadi kontroversi yang dilemparkan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang dimulai dengan karya-karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri, berlanjutan terus hingga sampai ke hari ini karya-karya Syeikh Hamzah al-Fansuri selalu dibicarakan dalam forum-forum ilmiah. Di bawah ini saya cuba menyenaraikan karya beliau yang telah diketahui, iaitu: 1). Syarb al- ‘Asyiqin atau Zinatul Muwahhidin. 2). Asrar al-’Arifin fi Bayan ‘Ilm as-Suluk wa at-Tauhid. 3). Al-Muntahi. 4). Ruba’i Hamzah Fansuri. 5). Kasyf Sirri Tajalli ash-Shibyan. 6). Kitab fi Bayani Ma’rifah. 7). Syair Si Burung Pingai. 8). Syair Si Burung Pungguk. 9). Syair Sidang Faqir. 10). Syair Dagang. 11). Syair Perahu. 12). Syair Ikan Tongkol. Keterangan lengkap mengenai data karya Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dirujuk dalam buku yang saya susun berjudul Al-Ma’rifah Pelbagai Aspek Tasawuf Nusantara, jilid 1. Senarai yang tersebut di atas merupakan maklumat yang terlengkap buat sementara dan akan ditambah lagi jika terdapat maklumat baru yang belum termuat dalam senarai di atas.

Mengakhiri artikel ini di sini perlu dijelaskan bahawa makam Syeikh Hamzah al-Fansuri telah ditemui sebagaimana ditulis oleh Dada Meuraxa: “Di satu kampung yang bernama Obor terletak di hulu Sungai Singkil, terdapat makam ulama dan pujangga Hamzah Fansuri. Makam itu bertulis: Inilah makam Hamzah Fansuri mursit Syeikh Abdurrauf = Hamzah Fansuri guru Syeikh Abdur Rauf.”

Mengenai tahun wafat Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat selama ini tidak pernah disebut. Tetapi Azra dalam Jaringan Ulama menyebut bahawa ulama sufi itu wafat pada tahun 1016 H/1607 M. Disebutkan tahunnya itu disekalikannya membantah bahawa Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri (Al-Sinkili, menurut istilahnya) “tidak mungkin bertemu dengan ulama sufi itu”, menurutnya “Al-Sinkili bahkan belum lahir”.
Seolah-olah Azra menolak mentah-mentah tahun kelahiran Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri yang disebut oleh A. Hasymi tahun 1001 H/1592 M itu, kemungkinan dia berpegang pada tahun kelahiran 1024 H/1615 M, atau pendapat lain 1620 M, sedangkan tahun kewafatan Syeikh Hamzah al-Fansuri yang disebutnya 1016 H/1607 M itu belum juga tentu betul. Wallahu a’lam.

Wednesday, 4 May 2011

Di Balik Cermin Mimpi


Di balik cermin mimpi adalah tajuk lagu yang dinyanyikan oleh M.Nasir, Seni katanya juga di tulis sendiri oleh beliau. Sangat memberi makna jika diperhatikan betul-betul pada liriknya, banyak maksud yang tersembunyi. Sebenarnya saya dapat lihat pengaruh puisi puisi sufi dalam lagu -lagu M.nasir ni dah lama, dari zaman dia bersama kumpulan kembara lagi. Cuma sejak menyanyi solo nampak jelas sangat unsur unsur puisi sufi dalam lirik lagunya. 

Tafsirlah bait bait lagu ini sendiri mengikut pandangan masing masing. Indah dan mendalam maksudnya yang tersurat. Kekadang kita terlupa siapa diri kita sebenarnya. 


Di balik cermin mimpi
Aku melihat engkau
Di dalam engkau
Aku melihat aku
Ternyata kita adalah sama
Di arena mimpi yang penuh bermakna

Bila bulan bersatu dengan mentari
Bayang-bayang ku hilang
Di selebungi kerdip nurani
Mencurah kasih, kasih murni
Mencurah kasih

Di balik cermin, cermin mimpi
Adalah realiti yang tidak kita sedari
Hanya keyakinan dapat merestui
Hakikat cinta yang sejati
Hakikat cinta yang sejati

Dengan tersingkapnya tabir siang
Wajah kita jelas terbayang
Dan terpecah cermin mimpi
Menjadi sinar pelangi
Pelangi

Firman Allah : "jgn kamu (manusia) mencari aku nescaya kamu tdk akn ketemui aku, tetapi kenalilah aku didlm diri kamu.maka akan ketemuilah hakikat diri aku.."